Cerita ST pada harinya sehabis maghrib menunggu sebuah harapan. Ia berjalan bahkan berlari tergesa-gesa takut saat ia tiba telah terlambat pada hari ini. Di sana ia bertemu sesorang yang dirasanya pernah ia kenal. Ia memandang lurus bersamalan, lama rasanya salaman itu tak dilepaskannya. Di ajaknya mendekat pada kerumunan itu, bukan kerumunan sebenarnya karena hanya terdiri dari beberapa orang yang sedang duduk melingkar membahas sebuah bahasan. Ia masih bingung apa ia juga akan masuk dalam kerumunan atau sekedar pergi sebentar mencari suasana menata hati dan mentalnya beberapa waktu. Keberanianpun tak didapatnya ia memutuskan pergi sebentar berjalan bolak-balik hanya sekedar mengisi waktu atau membuang waktu jelasnya. Beberapa waktu di sana ia dipanggil oleh suara laki-laki memanggil namanya. Dipanggilnya dalam kerumunan itu, masuk dengan sambutan senyuman hangat dari tiap orang yang datang, sekedar menghangatkan suasana. Dari raut mukanya ia terlihat gugup. Bukan karena apa yang akan dihadapinya namun bagaimana ia menghadapinya. Bukan masalah sebenarnya adalah pintu anugrah. Di sana basa-basi sebentar sekedar membuka suasana menghilangkan ketegangan yang datang yang senasib sepertinya. Waktupun bergulir cepat, semua telah tersusun rapi dan siap dilaksanakan. Beruntung ia adalah bagian pertama dari sebuah sistem yang mencoba bagaimana sebenarnya sistem. Dalam beberapa dialog ia hanya takut pada penyampaian, pada pemilihan kata yang dalam kamusnya hanya terdapat beberapa saja. Ia bingung caranya menyampaikan lewat bahasa, karena ia sadar bahasa menurutnya dalam kondisi ini adalah bencana. Semua telah tersusun rapi sebenarnya dalam otaknya, namun dalam bagian otaknya ia sadar betul tak ada ruang kerja untuk mengeluarkan semua yang telah rapi di dalamnya. Ya begitulah…. semua yang keluar hanya garuk kepala dan senyum-senyum tak jelas karena kurang pantas. Ya gagal awalnya.
Hujan mulai mengintip dari balik awan, di rasanya ia sudah penuh jenuh di sana untuk sekedar menyambangi bumi, saudaranya. ST pun lewat, telah gagal dan berharap ada kesempatan berbeda pada sempitnya peluang dan ini ia pikir ada peluang. Namun saat ia akan mulai mengucapkan maksutnya, ada rasa bimbang yang lagi mendekat padanya. Biarlah tak peduli aku. Namun skrip berbicara berbeda, kesempatan malam ini telah sirna karena panggilan kedua. Ya sudahlah.
Kesempatan kedua kadang tak berbeda, kadang juga sebagai sama. Ya karena memandang terlalu mudah dan menganggap mudah. Ia terlalu terlewat dan bukan porsinya. Semua keluar tanpa rem yang benar-benar membuat teling membuat paradigma berbeda-beda. Ya berbeda. Ini juga gagal pada kesempatan kedua, ya gagal. Kesialan malam ini dimulai dan kuakhiri dengan sesuatu yang membuat selesai di akhir cerita dalam kata, ya kata. Terima kasih dan ya terima kasih. Bersyukur pada Allah akan semuanya.